Tuhan yang Menyesatkan dan Memberi Petunjuk?

Dalam pelbagai ayat suci al-Qur’an sering kali kita jumpai redaksi petunjuk dan kesesatan yang bersumber dari Tuhan. Yang ingin kami tanyakan di sini adalah maksud dari petunjuk dan kesesatan dari Tuhan itu. Apakah Tuhan memberikan petunjuk kepada seseorang tanpa adanya usaha dan ikhtiar dari manusia demikian juga menyesatkan seseorang bukan karena ulah dan peran manusia? Apapulah yang dimaksud dengan hidayah takwini dan hidayah tasyri’i yang disebut dalam beberapa kitab Teologi. Terima kasih.

Terima kasih atas pertanyaan Anda. Pertama-tama kita harus memberikan definisi yang jelas terlebih dahulu ihwal petunjuk dalam masalah ini. Read more »

Mizan Keadilan Tuhan [6]; Takdir dan Nasib Manusia

Mari kita perhatikan sebuah jam tangan. Beberapa bagian dari jam tangan terbuat dari emas, yang lainnya dari baja; yang lainnya dari kaca atau yakut. Pada jam tangan terdapat sebuah lempengan yang datar; seperti panah; pegas; poros; dan beragam jentera yang kesemuanya ini berbeda ukurannya. Muka arloji berwarna putih, angkanya berwarna hitam, jarum pendeknya berwarna merah dan jarum panjangnya berwarna hitam. Angka-angka yang terdapat pada jam mulai dari angka satu hingga angka dua belas. Pendeknya, terdapat beragam jenis, warna, bentuk untuk membuat sebuah jam tangan bekerja.

Dapatkah jam tangan ini bekerja jika seluruh komponennya bentuk, ukuran dan desainnya sama dan satu? Dapatkah jarum pendeknya mengeluh untuk mencari pembenaran mengapa ia diwarnai hitam sementara jarum panjang dicoraki merah? Dapatkah angka 1 mengeluh mengapa ia tidak diberi angka 12? Dan jika seluruh angka-angka tersebut diletakkan pada satu tempat dan posisi yang sama, dapatkah orang-orang mengetahui waktu dari jam tersebut? Read more »

Antara Qadha’, Qadar dan Kehendak Bebas Manusia [19]

Definisi

Kata qadar berarti ukuran (miqdar), dan taqdir (takdir) yaitu ukuran sesuatu dan menjadikannya pada ukuran tertentu, atau menciptakan sesuatu dengan ukurannya yang ditentukan. Sedangkan kata qadha  berarti menuntaskan dan memutuskan sesuatu, yang di dalamnya menyiratkan semacam unsur konvensi.  Terkadang dua kata ini digunakan secara sinonim yang berarti nasib.

Maksud dari takdir Ilahi yaitu bahwa Allah Swt. telah  menciptakan segala sesuatu serta telah menetapkan kadar dan ukurannya masing-masing dari segi kuantitas, kualitas, ruang dan waktu. Dan hal ini dapat teralisasi di dalam rangkaian sebab-sebab.

Sedangkan yang dimaksud qadha Ilahi adalah menyam-paikan sesuatu kepada tahap kepastian wujudnya, setelah terpenuhinya sebab-sebab dan syarat-syarat sesuatu itu. Berdasarkan maksud ini, tahap takdir itu lebih dahulu dari tahap qadha’, karena di dalam takdir terdapat beberapa tahap gradual dan syarat-syarat yang jauh, tengah dan dekat. Dan takdir ini dapat mengalami perubahan dengan berubahnya sebagian sebab dan syaratnya. Read more »

Berdialog dengan Asy’ariah dan Mu’tazilah

Dialog interfaith dan intrafaith merupakan dialog yang harus intens dikembangkan pada setiap pemeluk kepercayaan. Keyakinan yang dianut oleh sebuah agama atau mazhab untuk mampu berjajal dengan realitas harus dikomunikasikan dan diekspresikan pada bursa ideologi. Karena ketika keyakinan atau kredo itu dipandang sebagai sebuah pilihan, setelah melakukan penelusuran dengan menggunakan piranti akal dan nurani, ia harus dipandang sebagai sebuah kebenaran yang menyediakan lahan bagi para pemeluknya untuk melesak meraih kesempurnaan insani dan kebahagiaan hakiki. Karena mencapai dan meraup kesempurnaan merupakan tuntutan fitrah manusia, apapun agamanya.

Islam yang merupakan sebuah agama samawi semenjak kemunculannya menyambut dawuh dialog interfaith dan intrafaith ini. Islam yang diyakini oleh para pemeluknya tidak terkecuali harus turut dikomunikasi dan diekspresikan. Mengingat keyakinan kepada sesuatu berpotensi membahagiakan sekaligus menelantarkan. Namun bagaimana menemukan formula dan teraju untuk menjamin bahwa keyakinan tersebut merupakan sebuah keyakinan yang 100 % mengandung kebenaran dan tak lekang oleh panas serta tak lapuk oleh hujan. Artinya ia harus kokoh dengan argumen-argumen rasional dan filosofikal, dalam berjajal dengan agama-agama lainnya. Islam menantang setiap agama-agama untuk menyodorkan argumen dengan nada “Qul Haatu Burhanakum inkuntum Shadiqin.” Sodorkan argumenmu sekiranya engkau merupakan orang yang benar.”  Read more »

Lagi tentang Determinasi dan Kehendak Bebas

Pada postingan yang lalu, setelah beberapa lama mengalami moratorium di antaran karena perbaikan performa blog dalam format site yang cukup banyak menyita perhatian dan energi, ada sebuah tanggapan yang cukup kritis ihwal perbuatan Tuhan dan efek-efek yang terjadi di alam semesta yang datang dari Sdr. Akallurus. Terima kasih atas perhatian Sdr dan sekaligus maaf karena Anda harus bersabar menanti jawaban dari kami. Dalam menanggapi komentar bag. Pertama, kami akan menanggapinya secara bertahap, untuk menghindari  volume komentar yang besar, karena menurut hemat dan harapan kami, dialog “intrafaith” ini akan berlangsung cukup lama sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dasar tentang masalah Determinasi dan Kehendak Bebas ini. Read more »

Info Aktual & Kabar Gembira

Salam sejahtera…

Setelah seminggu lamanya menimbang perbaikan performa blog, yang sejatinya merupakan kelanjutan dari site resmi, www.wisdoms4all.com/ind , akhirnya kami memilih tetap menggunakan layanan dan fasilitas wordpress dalam format site. Oleh karena itu, dengan ini, Kami mengundang Sdr/i untuk menikmati tulisan/artikel/wacana/tanya-jawab selanjutnya di site www.wisdoms4all.com/ind  . Kami berterima kasih atas segala perhatian, komentar dan sanggahan yang selama ini diberikan kepada pengelola blog ini. Bagi Sdr/i yang memiliki sanggahan, pertanyaan yang belum terjawab di blog ini kami persilahkan browse ke site tersebut. .. We’ll be very glad to see you there.. :mrgreen: 

 

Menebar Ideologi Benar, Menuai Kedamaian

Pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengganggu manusia dalam hidupnya adalah dari mana ia, kemana ia, hendak kemana ia, dan apa tujuan dari keberadaannya ini?

Pertanyaan-pertanyaan yang senantiasa dilontarkan manusia kepada dirinya ini memerlukan jawaban yang komprehensip dan memuaskan, supaya ia, berdasarkan jawaban tersebut, dapat mengambil sikap yang bijak dalam kehidupannya. Meluruskan prilakunya dan menegaskan undang-undang ideal yang menjadi acuan dan pedoman dalam kehidupan individual serta kehidupan bermasyarakatnya. Read more »

Meragukan Kesangsian Descartes

Merunut kembali dari apa yang dibahas pada kesempatan-kesempatan yang lalu, telah diurai secara semi-detail ihwal Mazhab Rasionalisme, yang kemudian lebih mengurucut menjadi Rasionalisme Filsafat Realistik dan Rasionalisme Filsafat Idealistik.

Kali ini makalah sederhana ini dialokasikan untuk membahas tokoh Mazhab Rasionalis serta memberikan sedikit catatan-catatan tentang ketidakutuhan postulat Descartes yang  beranggapan bahwa tidak ada yang lebih niscaya dan meragukan dari menggunakan postulat “Aku ragu” (dubito) atau “Aku berpikir” (cogito) dalam berkonfrontasi dengan realitas. Mengapa, menurut Descartes, lantaran mustahil ragu hadir tanpa peragu. Dengan meragukan segala sesuatu (to doubt all things) Descartes mencoba menguak realitas dunia luar. Layak untuk ditegaskan kembali bahwa Descartes mengusung postulat ini adalah untuk berhadapan dengan kaum Skeptisme yang mengingkari realitas. Read more »

Determinasi dan Kehendak Bebas [18]

Mukaddimah

Selaras dengan penjelasan kami pada pelajaran yang lalu, bahwa Tauhid kepada Allah sebagai Pengaruh Mutlak Yang Mandiri merupakan salah satu pengetahuan yang bernilai tinggi dan berperan besar dalam pembinaan umat manusia. Oleh karena itu, Al-Qur’an sangat menekankan dan menyam-paikannya dengan ungkapan yang beragam sehingga dapat dipahami secara benar. Di antara ungkapan-ungkapan terse-but ialah bahwa setiap kejadian di alam ini terwujud dengan izin,  masyi’ah, kehendak, qadha’ dan qadar Allah.

Pemahaman yang benar atas persoalan ini, di samping memerlukan kematangan akal-pikiran, juga membutuhkan kepada pengkajian dan penafsiran yang benar. Read more »

Kesucian Para Nabi

  Pembahasan kesucian para nabi termasuk pembahasan utama dalam kajian teologis setelah pembahasan tauhid, keadilan Ilahi. Konsekuensi dari keadilan Tuhan, di samping menurunkan kitab adalah mengutus para nabi yang mengawal dan memapaparkan (tabyin) kandungan kitab tersebut serta menjadi pelaku operasional-visual ajaran-ajaran kitab samawi tersebut. Kajian kita kali ini adalah membahasa masalah ishmah (kesucian, terbebas dari kesalahan dalam ilmu dan amal) para nabi. Serentetan pertanyaan-pertanyaan berikut ini segera muncul di kepala, Apakah  kesucian itu? Apakah kesucian para nabi itu memiliki ragam dan tingkatan? Apakah akal menghukumi bahwa di samping kitab-kitab suci harus kudus dan suci, demikian juga para pembawanya?  Apakah setelah membuktikan bahwa para nabi itu suci , apakah kesucian yang dimiliki itu dapat diperoleh oleh manusia selainnya? Apakah ishmah atau kesucian itu merupakan sesuatu anugerah Tuhan yang bersifat determinis atau ikhtiari? Dengan menelaah tulisan ini dengan baik, Anda akan memperoleh jawaban yang memuaskan akal dan jiwa Anda. Read more »